Sejak menjadi penulis buku, banyak lembaga atau
perusahaan yang mengundang saya untuk menjadi pembicara. Salah satunya adalah
lembaga pusat perbukuan yang bernaung di bawah kementrian pendidikan nasional.
Lembaga itu melibatkan saya sebagai sebagai salah satu trainer mereka yang akan berkeliling ke beberapa provinsi untuk
memberikan sharing kepada para guru,
dosen, dan praktisi pendidikan yang hendak menjadi penulis buku.
Terkait dengan hal itu, setiap kali mengawali
seminar, saya selalu mengancungkan buku karangan saya dan bertanya,”Siapa di
antara Bapak dan Ibu yang mau berikan buku ini secara gratis?” Sontak, ketika
mendengar pertanyaan ini, para peserta seminar antusias. Ada yang mengangkat
tangannya tinggi-tinggi, ada yang melambai-lambaikan tangan, bahkan tak sedikit
yang berdiri sembari berteriak: “Buat saya saja bukunya!” “Saya mau, saya mau!”
atau “Untuk saya saja, Pak!”
Alhasil, untuk sementara waktu, suasana seminar
menjadi gaduh dengan terikan para peserta seminar yang saling berebut perhatian
untuk mendapatkan buku itu. Dan, mereka baru berhenti berteriak ketika ada
seorang peserta yang tiba-tiba lompat dari tempat duduknya dan berlari
menghampiri saya untuk mengambil buku tersebut.
Ketika suasana sudah tak lagi gaduh, saya kembali
mengajukan pertanyaan kepada segenap peserta seminar, “Mengapa kalian tidak
maju kedepan untuk mengambil buku tersebut?” Dan inilah alasan mereka:
“Saya malu untu maju kedepan.”
“Saya susah bergerak karena tempat duduk saya di
belakang.”
“Saya tidak yakin bahwa Anda sungguh-sungguh akan
memberikan buku itu.”
“Saya sengaja memberikan kesempatan kepada yang
lebih muda.”
“Saya tidak ingin berebutan seperti anak kecil.”
Saya malu jika nanti ditertawakan orang lain.”
Itulah alasan-alasan yang mereka kemukakan selaku
pembenaran atas sikap mereka yang tidak berani maju kedepan.........
Banyak orang suka berdalih atau mecari-cari alasan
ketika mereka tidak berhasil meraih apa yang mereka inginkan. Mereka selalu
menunggu datangnya kesempatan atau membiarkan kesuksesan menghampiri mereka.
Padahal, kesuksesan itu ibarat kapal yang berada ditengah laut. Kita tidak bisa
hanya berdiam diri dan memandangnya dari tepi pantai. Juga, kita tidak bisa
hanya melambaikan-lambaikan tangan sembari berteriak, “Ayo kapal cepat kemari,
saya sudah tidak sabar menunggu kedatanganmu!” Kesuksesan itu harus dikejar,
bukan ditunggu. Jika kita menghendaki agar kapal itu lebih cepat menghampiri
kita, maka kita harus terjun ke laut dan berenang mendekatinya. Demikian pula
halnya dengan kesuksesan; Jika kita menghendaki kesuksesan menghampiri
kehidupan kita dengan lebih cepat, maka kita tidak bisa bersikap positif dan
menunggu bintang jatuh dari langit. Kita harus berani bertindak dan mengejar
impian kita, karena kehidupan tidak membayar apa yang kita katakan atau
inginkan, kehidupan hanya akan membayar apa yang telah kita lakukan.
Diceritakan kembali oleh : Indah
Sumber : Pak Sulaiman Budiman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar